Yang bisa kupikirkan adalah lain kali kita bertemu, aku ingin mengecup dahimu dan membelai rambutmu. Tapi saat itu mungkin aku juga belum siap untuk menambat jangkar.
Tapi di utopiaku, saat itu aku telah siap dan kaya, bebas dari kekhawatiran. Atau kita berada di dunia berbeda yang kita tidak perlu khawatir bagaimana bertahan hidup, tidak perlu khawatir tentang hal-hal yang dangkal.
Di utopiaku, aku sudah selesai bermain dan mencari. Kini saat melempar jangkar. Aku ingin berlabuh pada damai hatimu. Aku ingin tenang serumah denganmu. Aku ingin pembicaraan malam yang melepaskan kesal dan lelah. Aku ingin bercerita padamu.
Aku ingin menyayangi kamu. Membuatkanmu masakan, memberi kamu makan.
Aku ingin membuat kamu tersenyum, aku ingin kamu berbahagia, aku ingin kita tertawa bersama.
Tapi inilah aku, berjalan sendiri dan ingin sendiri.
Seakan kedekatan dapat menyakiti.
Apa kamu mengerti?
Apa kamu mendengar?
Aku ingin sekali terbang tenang di pelukan cinta. Setiap orang yang aku cinta. Setiap orang yang aku damba. Aku ingin istirahat. Seperti tiap orang hidup ingin beristirahat di kematian yang damai.
Aku ingin istirahat di tanganmu yang tidak menuntut.
Dapatkah aku, sayang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar